Share It

Jumat, 18 Mei 2012

MAKALAH PARAMETER SPESIFIK DALAM SEDIAAN FITOFARMASI

BAB I PENDAHULUAN PARAMETER SPESIFIK DALAM SEDIAAN FITOFARMASI (PENETAPAN KADAR SARI DAN KADAR KANDUNGAN KIMIA) Standardisasi ekstrak tumbuhan obat di Indonesia merupakan salah satu tahapan penting dalam pengembanganobat asli Indonesia. Ekstrak tumbuhan obat dapat berupa bahan awal, bahan antara, atau bahan produk jadi. Ekstrak sebagai bahan awal dianalogikan dengankomoditi bahan baku obat yang dengan teknologi fitofarmasi diproses menjadi produk jadi. Ekstrak sebagai bahan antara merupakan bahan yang dapat diproses lagi menjadi fraksi-fraksi, isolat senyawa tunggal ataupun tetap sebagai campuran dengan ekstrak lain. Adapun jika sebagai produk jadi berarti ekstrak yang berada dalam sediaan obat jadi siap digunakan, baik dalam bentuk kapsul, tablet, pil, maupun dalam bentuk sediaan topikal. Berbagai penelitian dan pengembangan yang memanfaatkan kemajuan teknologi dilakukan sebagai upaya peningkatan mutu dan keamanan produk yang diharapkan dapat lebih meningkatkan kepercayaan terhadap manfaat obat yang berasal dari bahan alam. Salah satu penelitian yang telah dilakukan adalah pembuatan ekstrak tumbuhan berkhasiat obat yang dilanjutkan dengan standardisasi kandungannya untuk memelihara keseragaman mutu, keamanan, dan khasiatnya. BAB II PEMBAHASAN Tanaman gedi (Abelmoschus manihot), suku Malvaceae, merupakan tumbuhan tahunan yang berbatang tegak dengan tinggi sekitar 1,2 – 1,8 m. Kandungan mucilago dari tanaman tersebut terdiri atas polisakarida dan protein. Tanaman ini mengandung quercetin-3-o-robinobiosid, hyperin, isoquercetin, gossipetin-8-o glukuronid, dan myricetin (Liu et al., 2006). Bunganya mengandung quercetin-3-robinoside, quercetin-3’-glikosida, hyperin, myrecetin, antosianin, dan hyperoside. Hyperoside memiliki kemampuan antivirus, antinosiseptif, antiinflamasi, kardioprotektif, hepatoprotektif, dan efek protektif terhadap gastrimukosal (lapisan membran mukus pada lambung). Daun gedi juga telah diuji dapat mencegah ovariectomy-induced femoral ostopenia (kondisi densitas mineral tulang yang lebih rendah dari batas normal pada bagian sendi tungkai akibat operasi pengangkatan rahim/ovarium) (Lin-lin et al., 2007; Jain et al., 2009). Tanaman gedi juga dapat meningkatkan fungsi penyaringan glomerular, mengurangi proteinuria, hyperplasia messangium yang dapat mengurangi kerusakan jaringan ginjal (Shao-Yu et al., 2006). Senyawa flavonoid mempunyai berbagai fungsi penting untuk kesehatan, antara lain dalam menurunkan risiko serangan penyakit kardiovaskuler, tekanan darah, aterosklerosis, dan sebagai antioksidan (Hodgson et al., 2006). Flavonoid merupakan salah satu golongan fenol alam terbesar yang terdapat dalam semua tumbuhan berpembuluh. Berdasarkan strukturnya, flavonoid adalah turunan senyawa induk flavon yang mempunyai sejumlah sifat yang sama. Aglikon flavonoid terdapat pada tumbuhan dengan bentuk struktur yang berbeda-beda. Setiap struktur mengandung atom karbon dalam inti dasar yang tersusun dalam bentuk konfigurasi C6-C3-C6, yaitu dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh satuan tiga karbon yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin ketiga. Semua varian flavonoid saling berkaitan karena alur biosintesis yang sama dari alur sikimat dan alur asetat malonat. Flavonoid dalam tumbuhan umumnya terikat sebagai glikosida, baik O-glikosida maupun Cglikosida (Markham, 1988; Harborne, 1987). Flavonoid pada sayuran merupakan metabolit sekunder yang dimanfaatkan untuk kesehatan dan bahan pengkhelat yang menjadi penyumbang utama terhadap kapasitas fungsinya sebagai antioksidan. Selain berfungsi sebagai antioksidan, flavonoid juga dapat memodulasi jalur sinyal sel dan efeknya dapat ditandai pada fungsi sel dengan mengubah protein dan fosforilasi lemak dan modulasi ekspresi gen (Číž et al., 2010). Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian mengenai standardisasi mutu ekstrak tanaman gedi (Abelmoschus manihot L.) Medik agar diperoleh keseragaman mutu, keamanan, dan khasiatnya sebagai antioksidan. a. Pembuatan Ekstrak Daun gedi diambil pada pagi hari yaitu daun yang kelima dari pucuk hingga ke bawah yang masih hijau, dipetik secara langsung dengan tangan. Daun yang telah dikumpulkan dari ketiga daerah, yakni daerah Makassar, Palu, dan Gorontalo masing-masing disortasi basah atau dicuci dengan air mengalir, kemudian dikeringkan. Daun yag telah kering disortasi kering dan diserbukkan. Serbuk daun gedi diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi dan infundasi. Mula-mula 800 g serbuk daun gedi dimaserasi dengan pelarut etanol 70% dan 96% selama 3x24 jam pada wadah kaca yang berbeda hingga 1- 3 cm di atas serbuk. Filtrat dikumpulkan lalu diuapkan dengan rotavapor hingga diperoleh ekstrak kental etanol 70% dan 96%. Selain itu, dibuat infusa dari daun gedi dengan menimbang sebanyak 500 gram serbuk daun gedi, kemudian dibasahkan dengan 5000 ml air suling di dalam panci. Pemanasan dilakukan pada suhu 90°C selama 15 menit sambil sesekali diaduk. Infus disekai sewaktu masih panas melalui kain flannel dan untuk mencukupi volumenya, ditambahkan air mendidih melalui ampasnya. Kemudian dikeringkan secara freeze drying. b. Penentuan parameter-parameter standardisasi Parameter spesifik 1. Penetapan organoleptik ekstrak meliputi bentuk, warna, rasa, dan bau. 2. Penetapan kadar senyawa terlarut dalam pelarut tertentu. a. Kadar senyawa yang larut dalam air Sejumlah 2,5 g ekstrak dimaserasi selama 24 jam dengan 50 ml air-kloroform LP, menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam, kemudian disaring. Diuapkan 10 ml filtrat hingga kering dalam cawan penguap, residu dipanaskan pada suhu 105°C hingga bobot tetap. Dihitung kadar dalam persen senyawa yang larut dalam air terhadap berat ekstrak awal. Dilakukan replikasi sebanyak 3 kali. b. Kadar senyawa yang larut dalam etanol Sejumlah 2,5 g ekstrak dimaserasi selama 24 jam dengan 50 ml etanol 95% menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. Disaring cepat dengan menghindari penguapan etanol, kemudian diuapkan 10 ml filtrat hingga kering dalam cawan penguap yang telah ditera, residu dipanaskan pada suhu 105°C hingga bobot tetap. Dihitung kadar dalam persen senyawa yang larut dalam etanol terhadap berat ekstrak awal. Dilakukan replikasi sebanyak 3 kali. 3. Analisis kandungan flavonoid total a. Proses Hidrolisis Ekstrak 200 mg simplisia ditimbang dan dimasukan ke dalam labu alas bulat. Ditambahkan sistem hidrolisis: 1 ml larutan 0,5% b/v heksametilenetramina, 20 ml aseton, dan 2 ml larutan 25% HCl dalam air. Dilakukan hidrolisis dengan pemanasan sampai mendidih (digunakan pendingin air untuk refluks) selama 30 menit. Campuran hasil hidrolisis disaring menggunakan kapas ke dalam labu ukur 100 ml. Residu hidrolisis ditambah 20 ml aseton untuk didiihkan kembali sebentar, dilakukan dua kali dan filtrat dikumpulkan semua ke dalam labu ukur. Setelah labu ukur dingin, maka volume ditepatkan sampai tepat 100,0 ml dan dikocok rata. 20 ml filtrat hidrolisa dimasukkan ke corong pisah dan ditambahkan 20 ml H2O. Selanjutnya dilakukan ekstraksi kocok, pertama dengan 1ml etilasetat. Kemudian dua kali dengan 10 ml etilasetat, dan dikumpulkan fraksi etilasetat ke dalam labu ukur 50 ml, akhirnya ditambahkan etilasetat sampai tepat 50 ml. dilakukan replikasi 3 – 4 kali. Cara Perhitungan Kadar Sari : Berat Ekstrak = (Berat total penimbangan – Berat cawan kosong) Kadar sari Larut etanol (N) = x 100 % Kadar Sari Rata-rata = x 100 % b. Pembuatan larutan baku flavonoid Rutin yang telah dihidrolisis ditimbang teliti sejumlah 5 mg, kemudian dilarutkan dengan alkohol 96% pada labu ukur hingga 100 ml sehingga diperoleh konsentrasi 20 ppm. Larutan tersebut dipipet sebanyak 1; 2; 3; 4; dan 5 ml ke dalam labu ukur 10 ml dan ditambahkan 1 ml larutan 2 g AlCl3 dalam 100 ml larutan asam asetat glasial 5% v/v. Larutan dicukupkan volumenya dengan larutan asam asetat glasial 5%v/v hingga 10 ml sehingga diperoleh 5 konsentrasi,yakni 2, 4, 6, 8, dan 10 ppm. c. Penentuan λ maksimum Salah satu konsentrasi larutan baku diukur serapannya pada λ 200 – 500 nm. λ yang menunjukkan serapan tertinggi merupakan λ maksimum. d. Pengukuran serapan flavonoid total Sejumlah 10 ml larutan fraksi etilasetat (hidrolisa) dimasukkan ke dalam labu ukur 25 ml kemudian ditambahkan 1 ml larutan 2 g AlCl3 dalam 100 ml larutan asam asetat glasial 5% v/v. Larutan ini kemudian ditambahkan larutan asam asetat glasial 5%v/v sampai tepat 25 ml. Hasil reaksi siap diukur pada spektrometer UV-VIS setelah 30 menit berikutnya pada λ maksimum yang diperoleh. Kadar Flavanoid Total = BAB III KESIMPULAN Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui rumus struktur senyawa aktif yang terdapat dalam ekstrak daun Gedi. Ekstrak daun gedi (Abelmoschus manihot L.) Medik yang dipersyaratkan adalah ekstrak etanol 96%, yakni: Secara organoleptis ekstrak yang berasal dari ketiga daerah tidak berbeda, yakni berbentuk kental, berwarna hijau kecoklatan, berbau khas, dan berasa sepat. Parameter spesifik meliputi Susut pengeringan Kadar air Kadar abu Bobot jenis DAFTAR PUSTAKA Pratiwi, S. T. 2005. Pengujian Cemaran Bakteri Dan Cemaran Kapang/Khamir Pada Produk Jamu Gendong Di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pharmacon. Sudarmadji, S., Haryono, B., & Suhardi. 1986. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty. Yogyakarta. Widowati, W., Astiana S., dan Raymond J. 2008. Efek Toksik Logam, Pencegahan, dan Penanggulangan Pencemaran. CV Andi Offset. Jakarta. Harborne. I.B., 1987. Metode Fitokimia , terjemahan K. Radmawinata dan I. Soediso. penerbit ITB. Bandung. Arifin, H.,Nelvi, A., Dian, H., Roslinda, R. 2006. Standarisasi Ekstrak Etanol Daun Eugenia Cumini Merr.J. Sains Tek. www.pdf.parameter spesifik dan parameter non spesifik MAKALAH PARAMETER NON SPESIFIK DALAM SEDIAAN FITOFARMASI (PENETAPAN KADAR AIR DAN KADAR ABU) NAMA : EBNI SUHARA STAMBUK : 150 209 315 KELAS : L 2 / 09 LABORATORIUM FARMAKOGNOSI FAKULTAS FARMASI MAKASSAR 2012 BAB I PENDAHULUN PARAMETER NON SPESIFIK DALAM SEDIAAN FITOFARMASI (PENETAPAN KADAR ABU AIR DAN KADAR ABU) Sediaan obat tradisional atau herbal dibuat dari simplisia tanaman atau bagian dari hewan, atau mineral dalam keadaan segar atau telah dikeringkan dan diawetkan. Agar sediaan obat tradisional atau herbal tersebut dapat dipakai dengan aman, terjaga keseragaman mutu dan kadar kandungan senyawa aktifnya, maka diperlukan standardisasi baik standardisasi sediaan maupun standarisasi bahan baku simplisia Kontrol kualitas merupakan parameter yang digunakan dalam proses standardisasi suatu simplisia. Parameter standardisasi simplisia meliputi parameter non spesifik dan spesifik. Parameter nonspesifik lebih terkait dengan faktor lingkungan dalam pembuatan simplisia sedangkan parameter spesifik terkait langsung dengan senyawa yang ada di dalam tanaman. BAB II PEMBAHASAN Parameter nonspesifik 1. Parameter kadar air Sejumlah 1 g ekstrak ditimbang dalam krus porselen bertutup yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu 105°C selama 90 menit dan telah ditera. Ratakan dengan menggoyangkan hingga merupakan lapisan setebal 10 – 15 mm dan dikeringkan pada suhu penetapan hingga bobot tetap, buka tutupnya, biarkan krus dalam keadaan tertutup dan mendingin dalam desikator hingga suhu kamar, kemudian dicatat bobot tetap yang diperoleh untuk menghitung persentase susut pengeringannya. Dilakukan replikasi sebanyak 3 kali. 2. Parameter kadar abu Sejumlah 2 gram ekstrak ditimbang dengan seksama ke dalam krus yang telah ditera, dipijarkan perlahanlahan. Kemudian suhu dinaikkan secara bertahap hingga 600 ± 250C sampai bebas karbon, Selanjutnya, didinginkan dalam desikator, serta ditimbang berat abu. Kadar abu dihitung dalam persen berat sampel awal. Dilakukan sebanyak tiga kali replikasi. Kadar abu yang tidak larut dalam asam Abu yang diperoleh dari penetapan kadar abu, kemudian dididihkan dengan 25 ml asam klorida encer P selama 5 menit. Bagian yang tidak larut asam dikumpulkan, disaring melalui kertas saring bebas abu, dicucidengan air panas, disaring dan ditimbang, ditentukan kadar abu yang tidak larut asam dalam persen terhadap berat sampel awal. Dilakuakn replikasi sebanyak tiga kali. 3. Penentuan total bakteri dan total kapang a. Penetuan total bakteri Sejumlah 1 ml ekstrak dari pengenceran 10-4 dipipet dengan pipet steril, kemudian ditanamkan dalam medium NA, lalu diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Kemudian diamati dan dihitung jumlah koloni yang tumbuh dan dikalikan dengan faktor pengenceran. Dilakukan replikasi sebanyak tiga kali. b. Penentuan total kapang Sejumlah 1 ml ekstrak dari pengenceran 10-1 dipipet dengan pipet steril, kemudian ditanam dalam medium PDA, lalu diinkubasi pada suhu 25°C selama tiga hari. Kemudian diamati dan dihitung jumlah koloni yang tumbuh dan dikalikan dengan faktor pengenceran. Dilakukan replikasi sebanyak tiga kali. 4. Penentuan batas logam timbal (Pb) Penentuan batas logam Pb di dalam ekstrak dilakukan secara destruksi basah ekstrak dengan asam nitrat dan hidrogen peroksida, kadar Pb ditentukan dengan spektrofotometri serapan atom. Ekstraksi Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah daun gedi (Abelmoschus manihot L. Medik) yang diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi dan infudasi. Metode maserasi dipilih sebagai metode dalam mengekstraksi karena adanya sifat daun yang lunak dan mudah mengembang dalam cairan pengekstraksi. Selain itu, maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana karena cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif ini akan larut dan adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam dengan di luar sel menyebabkan larutan yang terpekat keluar hingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di dalam dengan di luar sel. Cairan penyari yang digunakan dalam proses maserasi ini adalah etanol 70% dan 96%. Etanol dipertimbangkan sebagai cairan penyari karena: 1. lebih selektif, 2. kapang sulit tumbuh dalam etanol 20% ke atas, 3. tidak beracun, 4. netral, 5. absorbsinya baik, 6. etanol dapat bercampur dengan air dalam segala perbandingan, 7. memerlukan panas yang lebih sedikit untuk proses pemekatan, dan 8. zat pengganggu yang larut terbatas. Pelarut etanol dipilih sebagai cairan penyari karena senyawa yang akan diekstraksi adalah senyawa fenolik. Ekstraksi senyawa fenolik dari jaringan tumbuhan dalam bentuk glikosida menggunakan pelarut metanol atau etanol pada suhu kamar dengan cara maserasi (Andersen, 2006; Markham, 1988). Infudasi adalah proses penyarian yang umumnya digunakan untuk menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati. Cara ini sangat sederhana dan sering digunakan oleh perusahaan obat tradisional. Cairan penyari yang digunakan dalam metode infudasi ini adalah air. Air dipertimbangkan sebagai penyari karena: 1. murah dan mudah diperoleh, 2. stabil, 3. tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar, 4. tidak beracun, dan 5. alamiah. Parameter Organoleptik Standardisasi merupakan proses penjaminan produk akhir (obat, ekstrak, atau produk ekstrak) agar mempunyai nilai parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan terlebih dahulu. Untuk menjamin mutu dari ekstrak tanaman obat, perlu dilakukan penetapan standar mutu spesifik dan non spesifik agar nantinya ekstrak terstandar dapat digunakan sebagai obat yang mengandung kadar senyawa aktif yang konstan dan dapat dipertanggungjawabkan. Parameter organoleptik ekstrak bertujuan memberikan pengenalan awal ekstrak secara objektif berupa bentuk, warna, bau, dan rasa. Data ini juga dapat digunakan sebagai dasar untuk menguji simplisia secara fisis selama penyimpanan yang dapat mempengaruhi khasiatnya. Penentuan Kadar Senyawa Terlarut Dalam Pelarut Etanol dan Air Parameter senyawa terlarut dalam pelarut tertentu bertujuan memberikan gambaran awal jumlah kandungan senyawa yang dapat diekstraksi. Penentuan parameter ini dilakukan secara gravimetrik dan mempersyaratkan untuk menggunakan dua pelarut, yaitu pelarut air dan etanol. Kedua pelarut ini dan campuran keduanya merupakan cairan pelarut yang diperbolehkan dan memenuh syarat kefarmasian (pharmaceutical grade). Pelarut air dimaksudkan untuk melarutkan senyawa polar dan etanol untuk melarutkan senyawa kurang polar yang terdapat dalam ekstrak. Pada penelitian ini persentase kadar senyawa terlarut dalam air dan persentase kadar senyawa terlarut dalam etanol pada ekstrak daun gedi dapat dilihat pada tabel 3. Dari data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa ekstrak daun gedi yang diperoleh dari infudasi mengandung senyawa yang lebih polar, sedangkan untuk ekstrak yang diperoleh dari proses maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 70% dan 96% mengandung senyawa yang kurang polar. Penentuan Kadar Air Untuk penentuan kadar air digunakan metode gravimetrik, yang pada prinsipnya menguapkan air yang ada pada bahan dengan jalan pemanasan pada suhu 1050C, kemudian menimbang bahan sampai berat konstan. Pada penelitian ini persentase kadar air ekstrak daun gedi dapat dilihat pada tabel 3. Pada penelitian ini, persentase kadar air dalam ekstrak daun gedi tergolong memenuhi syarat . Menurut literatur, kadar air dalam ekstrak tidak boleh lebih dari 10%. Hal ini bertujuan untuk menghindari cepatnya pertumbuhan jamur dalam ekstrak (Soetarno dan Soediro, 1997). Cara perhitungan Kadar Abu = (Berat total penimbangan-Berat cawan kosong) Kadar Abu Total (N) = x 100% Kadar Abu Rata-rata = x 100% Penetapan kadar abu total dan abu tidak larut asam Abu adalah zat anorganik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik. Kandungan abu dan komposisinya tergantung pada macam bahan dan cara pengabuannya. Kadar abu ada hubungannya dengan mineral suatu bahan. Mineral yang terdapat dalam suatu bahan dapat merupakan dua macam garam yaitu : 1. Garam-garam organik, misalnya garam dari asam malat, oksalat, asetat, pektat, dan lain-lain 2. Garam-garam anorganik, misalnya fosfat, karbonat, klorida, sulfat nitrat danlogam alkali. Selain kedua garam tersebut, kadang-kadang mineral dapat terbentuk sebagai senyawa yang kompleks yang bersifat organis. Apabila akan ditentukan jumlah mineralnya dalam bentuk aslinya adalah sangat sulit. Oleh karenanya biasanya dilakukan dengan menentukan sisa pembakaran garam mineral tersebut yang dikenal dengan pengabuan (Sudarmadji, 1986). Penentuan kadar abu total dapat digunakan untuk berbagai tujuan antara lain: 1. menentukan baik tidaknya suatu pengolahan, 2. mengetahui jenis bahan yang digunakan, dan 3. penentuan parameter nilai gizi pada bahan makanan. Data kadar abu total dan abu tidak larut dalam asam yang terdapat pada ekstrak daun gedi Besarnya kadar abu total dalam setiap ekstrak daun gedi mengindikasikan bahwa ekstrak yang diperoleh dari proses maserasi dan infudasi banyak mengandung mineral. Adanya kandungan abu yang tidak larut dalam asam yang rendah menunjukkan adanya pasir atau kotoran yang lain dalam kadar rendah. Cara Kerja Penetapan Kadar Sari Penetapan Kadar sari yang larut dalam etanol Timbang serbuk sampel sebanyak 5 gram Maserasi dengan 100 ml etanol (95%) selama 24 jam menggunakan labu bersumbat kaca sambil sekali-kali dikocok selama 6 jam, kemudian diamkan selama 18 jam. Saring dengan menggunakan corong buchner dengan bantuan pompa vakum Uapkan 20 ml filtrat dalam cawan dangkal dasar rata yang telah ditera diatas tangas air hingga ekstrak kering Panaskan ekstrak pada suhu 1050C hingga bobot tetap/konstan. Hitung kadar dalam persen terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara. Penetapan kadar sari yang larut dalam air Timbang serbuk sampel sebanyak 5 gram Maserasi dengan 100 ml air kloroform (2,5 ml kloroform dalam 1000 ml air).Selama 24 jam menggunakan labu bersumbat kaca sambil sekali-kali dikocok selama 6 jam,Kemudian diamkan selama 18 jam, saring . Uapkan 20 ml filtrat dalam cawan dangkal dasar rata yang telah ditera diatas tangas air hingga ekstrak kering, Panaskan ekstrak pada suhu 1050C hingga bobot tetap/konstan Hitung kadar dalam persen terhadap bahan yang telah dikeringkan diudara. Penetapan Kadar kandungan Kimia Tentukan kadar zat aktif sesuai dengan bahan yang akan diujikan, dan ikuti prosedur kerja yang ada Konsultasikan ke dosen tutorial atau asisten pembimbing jika anda menemui kesultan dalam menetapkan kadar zat aktif yang dikerjakan. BAB III KESIMPULAN Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: Kadar rata-rata senyawa yang terlarut dalam air yakni 7,38 ± 0,22 – 8,91±0,21 %b/b. Kadar rata-rata senyawa yang terlarut dalam etanol yakni 21,12 ± 0,16 – 29,44±0,2 %b/b. Kadar air maksimum yang terkandung yakni 8,25± 2,51%b/b. Kadar abu total maksimum yang terkandung yakni 22,00 ± 1,46%b/b. Kadar abu tidak larut asam maksimum yang terkandung yakni 0,50 ± 0,12%b/b. Parameter nonspesifik meliputi Identitas Pola kromatogram Kadar sari Organoleptik DAFTAR PUSTAKA Pratiwi, S. T. 2005. Pengujian Cemaran Bakteri Dan Cemaran Kapang/Khamir Pada Produk Jamu Gendong Di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pharmacon. Sudarmadji, S., Haryono, B., & Suhardi. 1986. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty. Yogyakarta. Widowati, W., Astiana S., dan Raymond J. 2008. Efek Toksik Logam, Pencegahan, dan Penanggulangan Pencemaran. CV Andi Offset. Jakarta. Harborne. I.B., 1987. Metode Fitokimia , terjemahan K. Radmawinata dan I. Soediso. penerbit ITB. Bandung. Arifin, H.,Nelvi, A., Dian, H., Roslinda, R. 2006. Standarisasi Ekstrak Etanol Daun Eugenia Cumini Merr.J. Sains Tek. www.pdf.parameter spesifik dan parameter non spesifik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar